REJAB: Israk Mikraj & Sebuah Malapetaka

http://www.iluvislam.com
Dihantar oleh: autotronzer
Editor: cincaugoreng

———————————

Peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad lalu ini diabadikan dalam al-Quran dalam Surah Al-Israk ayat 1: “Maha Suci (Allah) yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya..”

Pada saat itu Baginda Nabi Muhammad SAW diberi sebuah keistimewaan dijalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Palestin), lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi (Sidratul Muntaha). Semua itu ditempuh dalam sehari-semalam. Peristiwa itu begitu istimewa. Kerana itu, hampir setiap tahun, tanggal tersebut dijadikan momentum oleh sebahagian kaum Muslim untuk mengadakan Peringatan Israk Mikraj.

Sungguh, sistem pemerintahan dalam Islam adalah sistem Khilafah, bukan yang lain. Inilah sistem pemerintahan yang telah diwajibkan oleh Rasululah SAW, menjadi ijmak para Sahabat serta dipraktikkan oleh Khulafa Ar-Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Khilafahlah yang menjaga akidah, agama, kehormatan, jiwa dan harta manusia; menjaga perbatasan; menghilangkan hambatan dan penghalang yang berusaha menghalangi sampainya risalah Islam sehingga kalimat Allah dijunjung tinggi di muka bumi ini.

Khalifahlah yang benar-benar menjadi pemelihara bagi kaum Muslimin. Khalifahlahpenjaga sejati wilayah Islam dan pelindung hakiki kaum Muslimin dari setiap serangan musuh. Khalifahlah yang mengembangkan Islam ke seluruh penjuru duniadengan dakwah dan jihad dengan tetap menjaga kemuliaan, keadilan dan kebaikan.

Kaum Muslimin di bawah naungan Khilafah benar-benar bisa merasakan kehidupan yang mulia dan terhormat. Mereka diselimuti perasaan aman dan nyaman, kewajaran dan keadilan, serta kemakmuran dan sejahtera. Kehidupan makmur dan sejahtera, pernah ada suatu masa saat tidak ada lagi rakyat yang mahu mengambil zakat, kerana semua merasa telah kaya! Hal itu pernah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau pun pernah menulis surat kepada amilnya (ketua daerah) di Samarkand, Sulaiman bin Abi As-Samri: “Hendaklah kamu membangun beberapa penginapan (rumah musafir) di wilayahmu. Jika ada di antara kaum Muslimin yang melewati wilayahmu maka biarkan mereka tinggal sehari semalam dan uruslah kenderaannya. Jika ia masih punya alasan untuk tinggal maka biarkan ia tinggal sehari dua malam. Jika ada seseorang yang kehabisan bekal maka berilah ia harta yang cukup untuk sampai ke daerah tempat tinggalnya”.

Bukankah ini sebuah bentuk pengurusan rakyat yang sebetulnya? Apakah mungkin itu terjadi tanpa Khalifah yang memiliki kekuasaan untuk menerapkan Islam, sebagaimana saat ini? Adakah suasana ini berlangsung di negeri kaum Muslimin saat ini?

Khilafah pun senantiasa menjaga wilayah Islam dan kaum Muslim. Lupakah kaum Muslim dengan kisah Khalifah Al-Mu’tashim Billah, ketika seorang Muslimah yang dizalimi oleh seorang Rom meminta pertolongannya, “Wahai Mu’tashim, di manakah engkau!”

Berita itu sampai kepadanya pada malam hari. Beliau tidak menunggu hingga pagi. Beliau segera berangkat memimpin sendiri pasukannya. Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Rom pelaku kezaliman itu diserahkan untuk diqisas. Saat pemimpin Rom menolaknya, beliau pun menyerang kota tersebut, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga menaklukannya. Dinyatakan di dalam sejarah, KEPALA TENTERA KAUM MUSLIMIN TELAH PUN TIBA DI HADAPAN AMURIA, NAMUN EKORNYA MASIH LAGI DI PUSAT PEMERINTAHAN KHILAFAH ISLAM.

Lupakah kaum Muslimin dengan sikap Harun ar-Rasyid terhadap Nakfur Raja Rom yang telah merosak perjanjian yang diadakan dengan kaum Muslimin dan sikap permusuhannya terhadap kaum Muslimin? Saat itu Ar-Rasyid mengirim surat kepada Nakfur, yang isinya:“Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, anjing Rom. Jawaban atas sikap permusuhanmu adalah apa yang akan kamu lihat, bukan apa yang akan kamu dengar.”

Nakfur pun benar-benar boleh melihat tentera kaum Muslim, ketika mereka masih di perbatasan Rom, sebelum surat Ar-Rasyid sampai kepadanya.

Khilafah juga mengembangkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad demi kemuliaan, keadilan dan kebaikan. Lihatlah berbagai pembebasan yang telah menyebarluaskan Islam dan membersihkan semua bentuk kezaliman yang terjadi di berbagai penjuru dunia sejak zaman Rasulullah SAW, Khulafa Ar-Rasyidin dan para Khalifah sesudahnya. Semua itu merupakan mercu tanda kebaikan di dunia. Hanya dalam satu abad saja Islam telah tersebar luas dan kekuasaan Islam meliputi negeri-negeri Arab, Syam, Irak, Mesir, Afrika Utara, Andalusia, Bukhara dan Samarkand, Sind, India, dan wilayah barat laut India (Pakistan bahagian Barat). Islam terus tersebar hingga sampai di Asia Tenggara. Selanjutnya, pelbagai penaklukkan meluas hingga ke Asia Kecil, menaklukkan Konstantinopel dan Balkan; serta banyak lagi wilayah di muka bumi ini. Khilafah benar-benar menyandang kebesaran dan keagungan.

Khilafah juga menjadi mercu ilmu pengetahuan dan gudang para ulama dan ilmuwan islam. Ketika itu kaum Muslimin menjadi umat yang pertama dan terkemuka dalam bidang fizik, kimia, matematik dan astronomi. Negeri-negeri kaum Muslimin menjadi pusat ilmu pengetahuan sehingga banyak pelajar dari negara-negara Barat datamg untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan di Baghdad dan Andalusia.

Semua keagungan itu tetap ada dan terpelihara hingga Khilafah lenyap pada hari yang menyakitkan, iaitu 28 Rejab 1342 Hijrah, 89 tahun lalu. Sejak saat itulah, umat Islam yang dulunya hebat dan kuat, kini menjadi santapan lazat yang menjadi rebutan berbagai umat,

Persis yang digambarkan di dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan daripada Thauban RA, yang bermaksud: “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di lautan.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana mereka ada ditimpa penyakit, iaitu penyakit al-WAHAN. “Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-WAHAN?” Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

Begitu jelas perbezaan keadaan kita ketika pada masa Khilafah dan ketika lenyapnya Khilafah. Tidakkah semua itu mendorong kita untuk bersungguh-sungguh dalam perjuangan untuk mengembalikan Khilafah, yang tidak lain merupakan salah satu kewajiban utama dalam Islam? Tentu, kita semua wajib bersegera dalam melakukan perjuangan yang serius dan sungguh-sungguh untuk menegakkan kembali Khilafah ini.

Marilah kita bersegera menyambut janji Allah SWT:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا
اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ
خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa (An-Nur : 55).

Marilah kita segera menyambut seruan Rasulullah SAW:

« ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ »

Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian (HR Ahmad).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s